Dunia Tanpa Dia

Kakiku menggantung dan berayun pelan. Angin mengacak rambutku yang sulit diatur, membuatku pasrah dan membiarkan mereka berantakan. Tempat ini selalu menjadi tempat favoritku untuk menjauh dari semua orang, dan saat ini rasanya air di bawah kakiku lebih menerimaku daripada semua orang itu. Aku tidak senekat itu untuk terjun, namun itu jauh lebih mudah daripada terus bertahan.

“Kamu nggak seharusnya ada di sini! Ini bukan tempatmu.”

“Alah, cewek kayak dia mana ngerti dibilang kayak gitu. Udahlah, ngapain kamu ngurus orang nggak berguna kayak dia?”

“Dia ada atau enggak juga nggak bakal ngaruh kok.”

“Siapa sih dia? Cewek yang kemarin mecahin kaca di laboratorium itu? Emang aneh dia itu.”

“Dunia ini akan jauh lebih baik tanpa dia.”

“She is nobody!”

Lanjutkan membaca Dunia Tanpa Dia

Menjadi Tak Berarti

“Pergi dari hidup tenar, menatap dinding dengan nanar,

Merasakan pedihnya tawa hingga tak lagi memiliki nyawa,

Aku ada, sekaligus tiada,

Menatap senja sambil merindu manja.

Kau pergi dan tak kembali,

Meninggalkanku di sini, bertanya tanpa arti,

Menelusuri jalan-jalanku, menghirup aroma laut biru,

Menangis pilu, menyesali kesalahan selalu.

Kau milikku, dan aku milikmu.

Hai, gadisku, akulah lelakimu.

Kuserahkan obsesiku, kuletakkan ambisiku.

Akankah kau kembali, bila aku sudah tak punya arti?”

Aku dan Kamu

Akulah yang tak terlihat,

Terdiam di sudut yang terabaikan.

Akulah yang tak didengar,

Telingamu tidak mau menerima suaraku.

Akulah yang tak dianggap,

Karena kamu lebih peduli padanya.

Tapi,

Akulah yang paling tahu.

Dalam diam aku selalu mengamati.

Akulah yang paling mengerti.

Telingaku akan selalu menampung rahasiamu.

Akulah yang paling peduli.

Menemanimu saat kamu memilih untuk sendiri.

Akulah kamu,

Yang kamu abaikan saat kamu bersamanya.

Yang tak kamu dengar karena kamu hanya mendengar dia.

Yang peduli padamu saat tak ada yang memedulikan.

Yang menemani saat kamu menangis sendu pukul tiga.

Yang berusaha mengumpulkan hatimu yang terserak.

Yang menangis bersamamu ketika kamu melukis tubuhmu dengan luka.

Akulah otakmu yang punya logika.

Yang tetap waras agar kamu tidak gila.

Dengarkanlah aku, sekali ini saja.

Lupakan dia.

Dia tidak pantas untukmu.

Karena, bila dia pantas,

Dia tidak akan membiarkanmu melukis dengan silet.

Aku dan Putri Liliput

Aku sedang tersenyum padanya

Dia, yang selalu bisa kulihat hari Kamis

Dia, yang ketika kulirik sedang terdiam

Pipinya merona malu

Dia, yang dalam tenangnya terasa begitu teduh dan menyenangkan,

bagaikan pohon besar yang rimbun

yang akan memberi kedamaian pada setiap jiwa yang kesepian

Dia, yang kadang tertangkap basah menatapku

Matanya yang besar

menyesatkanku dalam tatapannya yang indah

Dia, yang kecil

Kapas putih yang halus, rapuh, dan lembut

Dia, Putri Liliput-ku

Karena dia, selalu tampak mungil dan manis

Dan saat dia, yang kutemui di sana hari Selasa ini

tercengang saat aku menelusuri wajahnya,

tersenyum,

duduk dengan gelisah

saat aku duduk di sebelahnya sampai dia pergi

yang kutahu hanyalah:

otakku memaksaku untuk segera berbicara padanya tentang apapun

telingaku ingin mendengar suara keluar dari bibirnya

dan hatiku ingin segera kenal dengan dia

Semua keinginan itu telah dia timbulkan

Cukup dengan diam di sebelahku

Aku menatapnya sambil tersenyum

Mendapatinya ikut menatapku dengan malu

Satu kalimat

Dan dia telah membuatku merasa bahagia

Apalagi, saat kudengar jawaban darinya

“Hai, Re. Aku Lilian.”

Aku dan Pangeran Respati

Aku hanya bisa menatapnya

Dia, yang hanya bisa kulihat hari Kamis

Dia, yang selalu kulihat sedang diam,

merenung dan berpikir

Dia, yang dalam diamnya terlihat begitu kokoh dan tegar,

layaknya batu karang yang kuat

yang akan menantang setiap ombak yang berdebur ke arahnya

Dia, yang kadang memergokiku sedang menatapnya

Senyumnya yang memukauku

memikat hatiku dengan pesona itu

Dia, yang misterius

Semesta penuh rahasia yang menunggu untuk dikuak

Dia, Pangeran Respati-ku

Karena dia, hanya bisa kulihat hari Kamis

Dan saat dia, yang hadir di sana hari Selasa ini,

tersenyum padaku yang sedang memperhatikannya,

menghampiriku,

duduk di sebelahku,

dan diam di sana sampai dia nanti turun,

yang kutahu hanyalah:

jantung ini memompa lebih banyak darah dari biasanya

karena otakku butuh energi untuk tetap berpikir

karena paru-paruku butuh energi untuk tetap bernapas

Semua energi itu telah dia ambil

Cukup dengan duduk di sebelahku

Dengan ragu, aku menoleh

Mendapatinya turut menoleh ke arahku

Satu tatapan

Dan dia telah membuatku merasa malu

Apalagi, saat kudengar suara itu.

“Hai. Aku Re. Kamu?”

Dia

Luka. Itu yang kulihat di wajahmu. Itu yang terpancar dari matamu. Itu yang kamu rasakan saat ini dan setiap saat kamu melihat dia. Luka.

Kamu dan dia sudah bersama sejak aku belum mengenalmu. Saat melihat kalian pertama kalipun, aku tahu. Caramu menatapnya, caramu menggenggam tangannya, caramu mengucap namanya. Jelas-jelas aku melihat cinta di antara kalian. Cinta abadi yang membuatku yakin kalian akan terus setia sampai maut memisahkan—tidak, sampai kalian bertemu lagi di sana nanti.

Ada banyak hal yang bisa kutangkap dari caramu melihat dia. Memanggil namanya. Sayang, jelas. Cinta, sudah pasti. Harapan untuk dia. Penerimaan akan seluruh kelebihan dan kekurangan dia. Keinginan untuk melindungi dan menjaga dia. Kekuatan untuk diberikan pada dia.

Lanjutkan membaca Dia

Sebuah Perenungan di Siang Hari

Baru saja tadi siang, ketika aku pulang naik bus, aku membaca sebuah buku. Belum selesai, tapi bisa dipastikan cerita itu berakhir sedih. Tidak seperti adikku yang benci cerita sedih, aku menyukainya. Bisa dibilang hampir semua jenis novel aku suka. Yah, hampir.

Novel-novel selalu mengungkit permasalahan rumit yang membuat cerita panjang dan berliku. Permasalahan yang kadang sulit dimengerti. Bahasa yang harus dipahami dengan membuka kamus. Kisah-kisah imajinatif yang sangat menarik untuk dibaca. Sedikit yang menjadi perenunganku siang ini: Mengapa orang suka menulis cerita yang sedih-sedih?

Sebenarnya, ini pertanyaan yang kuajukan pada diriku sendiri. Sebagai seseorang yang suka menulis dan kadang mengunggah ceritanya di blog ini, aku suka membayangkan sebuah peristiwa yang begitu menyedihkan. Tentang hal-hal yang menjadi imajinasiku belaka. Apa sih, yang sebenarnya membuat kita menulis (atau membayangkan, barangkali) kisah-kisah yang menyedihkan?

Apa karena hidup kita juga begitu menyedihkan?

Banyak yang sudah berupaya menguak misteri hidup melalui perenungannya. Tentang cinta, keluarga, bahkan yang terpenting, diri sendiri. Banyak yang berusaha mengupas, apa sebenarnya hidup ini? Benarkah takdir itu ada, dan siapa yang mengaturnya? Berlomba-lomba orang berusaha mencari tahu takdirnya.

Apa sih, sebenarnya hidup kita ini? Hanya Yang Mahakuasa saja yang tahu seluruh isi alam semesta, termasuk isi kepala kita. Tidak ada pertanyaan yang dapat tuntas terjawab. Satu pertanyaan akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lain, sedangkan kemampuan manusia sangat terbatas. Jawaban-jawaban yang ada belum tentu memuaskan kita. Kita berusaha menggali ilmu. Ilmu yang tak punya batas.

Apakah hidup kita demikian menjemukan, sehingga kita mengkhayalkan sesuatu yang tidak nyata? Kisah-kisah yang kita khayalkan bisa saja berupa apa yang kita harapkan terjadi di kehidupan kita. Menyadari bahwa kita ingin perubahan, lalu mengkhayalkan bagaimana perubahan itu dapat mengubah hidup kita. Menyadari bahwa hidup kita terlalu datar.

Manusia itu aneh. Ketika hidup tidak memberinya apapun, dia bosan dan ingin perubahan berarti. Ketika perubahan itu datang dalam bentuk masalah dan konflik, dia malah ingin “kehidupan” yang lama, kehidupan tanpa perubahan. Dia ingin perubahan, namun tidak siap menghadapinya.

Apakah itu yang kita alami?

Kita seharusnya menyadari bahwa kisah hidup kita ini berbeda dari kisah orang lain. Kisah yang unik, yang khusus dialurkan untuk kita. Kisah yang belum pernah ada dan tidak akan pernah ada lagi. Kisahmu adalah kisah agung yang dituliskan di buku kehidupanmu bahkan sebelum kamu dilahirkan. Kisah yang tidak akan pernah terganti.

Hidup adalah sebuah cerita panjang. Tebal bukunya tergantung dari kita sendiri. Apakah kita bersedia mengisinya dengan kisah menarik dan menginspirasi? Ataukah kita hanya akan membiarkan buku itu diisi dengan penantian kita akan sebuah kisah lain yang berbeda?

Itu pilihan kita masing-masing.

Semoga kita semua memilih pilihan yang terbaik.