2116: Incursion (A Wattpad Story)

Aku telah menerbitkan cerita baru di Wattpad (https://www.wattpad.com/user/Shadriella) pastikan kalian membacanya!

 

Judul: 2116: Incursion

Genre: Science Fiction

Sinopsis:

in•cur•sion

(noun) an invasion or attack, espesially a sudden or brief one.

Kehidupan Zen yang tenang di sebuah utopia bernama Ginea berbalik seketika saat sebuah pesawat asing berusaha menembus lapisan atmosfer bumi. Dia harus berlari menyelamatkan dirinya serta Maudy, tetangganya yang disukainya.

Kehidupan Andy yang penuh dengan percobaan ilmiah berubah dengan cepat saat kedatangan kembali makhluk asing itu membuat seluruh darah dalam dirinya menggelegak. Dia harus membantu pemerintah mengusir alien sekaligus menyembunyikan diri dari mereka dengan lihai.

Saat alien itu mengambil Maudy dari sisi Zen, dia harus bekerja sama dengan Andy untuk membunuh sang Ratu Alien serta menyelamatkan seluruh peradaban.

They come for another attack, but now we will fight back!

Cover:

Incursion

The Winter Fairy (A Wattpad Story)

Just recently, aku mulai aktif kembali di aku Wattpad-ku (https://www.wattpad.com/user/Shadriella) dan menerbitkan cerita di sana. Aku nggak tahu siapa yang akan membaca blog ini, tapi kalau kalian membacanya dan merasa tertarik, silakan membukanya di akunku, Shadriella.

 

Judul: The Winter Fairy

Genre: Fantasi

Sinopsis:

Jenna adalah gadis remaja biasa yang punya kehidupan biasa. Namun, kehidupannya jadi tidak biasa saat dia terbangun dalam kamar penuh salju, yang menyebabkannya dikirim ke sekolah khusus para makhluk mitos. Bagaimana dia akan membiasakan diri dengan titel barunya: Peri Musim Dingin?

Cover:

TWF - 512x800

 

Tentang Kehilangan dan Keping Hati yang Tak Kembali

Aku baru saja menyelesaikan sebuah buku. Buku itu mengenai kehilangan. Mengenai cara masing-masing individu untuk menghadapinya, menjalani hidup yang baru tanpa kehadiran orang itu di sisi mereka.

Aku baru mengalami dua kehilangan. Kedua kakekku telah meninggalkan dunia dan telah menghuni sebuah tempat yang lebih baik. Meski aku tidak begitu dekat dengan mereka, aku pun kehilangan.

Lanjutkan membaca “Tentang Kehilangan dan Keping Hati yang Tak Kembali”

What Has 2015 Given to You?

“Apa yang sudah diberikan 2015 padamu?”

Aku terdiam saat mendadak pertanyaan ini muncul di otakku. Apa ya? Tahun ini telah menjadi tahun yang menakjubkan, dan aku benar-benar menyukainya. 2015 telah memberiku banyak hal.

Ujian nasional dan teman-teman yang berjuang bersamaku. Guru-guru yang selalu mendukung kami belajar dan membantu kami menentukan jurusan yang kami inginkan. Universitas terbaik di negeri ini, fakultas favorit, dan jurusan yang menantang. A crush and how it felt to have your feeling crushed. Teman-teman baru yang menyenangkan. Petualangan seru dan kejadian lucu. Mimpi baru untuk dikejar. Dukungan dan bantuan dari semua orang di saat aku sedang tidak bersemangat. Lahirnya adik sepupu di tanggal yang sama dengan ulang tahun artis favoritmu.

Tentu saja, di saat yang bersamaan, ada waktu-waktu saat aku sedang jatuh. Saat aku merasa tidak mampu lagi mengejar mimpiku. Momen-momen galau menentukan jurusan. Kehilangan seseorang yang disayangi. Tak lupa momen-momen pendewasaan diri. Waktu Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamatku menunjukkan kekuasaannya yang besar dan mengagumkan. Kesalahan-kesalahan untuk dipelajari dan direnungkan.

2015 telah memproses seorang Shania Adriella Kurniawan menjadi dirinya yang sekarang. Proses yang menyakitkan, memang, tapi perlu. Tentu saja aku tidak bisa menilai bagaimana diriku telah berubah—hanya orang lain yang bisa. Namun tahun ini, tahun-tahun sebelumnya, dan tahun-tahun yang akan datang, tentu punya caranya sendiri untuk mengubahku sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang lebih baik. Dan aku menantikannya.

Selamat berproses di tahun 2016!

Satu Pertanyaan

“Kamu sayang sama Yang Kung kan?”

Air mata langsung merebak, menutupi pandanganku. Aku sedang berada di Semarang untuk menengok Eyang Kakung (Yang Kung) yang sedang sakit dan dirawat di HCU. Karena satu pasien hanya boleh menerima dua pengunjung, aku dan adikku masuk duluan.

Yang Kung ada di dalam, berbaring di sebuah tempat tidur di ruangan yang senyap itu. Eyang Putri (Yang Ti) sudah menemani, bersama Tante yang notabene pegawai rumah sakit. Kami berbincang sebentar, lalu muncullah pertanyaan itu.

Aku terdiam, tidak mampu berkata-kata. Aku tahu beliau bertanya seperti itu karena beliau merasa penyakitnya sudah sangat parah dan waktunya sudah dekat. Pertanyaan itu membuatku terenyak. Sungguh, aku sama sekali tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.

Air mata segera saja memenuhi rongga mataku, membuat pandanganku memburam. Aku menengadah, berusaha mencegah air mata agar tidak segera tumpah. Aku belum bisa bereaksi.

Lanjutkan membaca “Satu Pertanyaan”

Dunia Tanpa Dia

Kakiku menggantung dan berayun pelan. Angin mengacak rambutku yang sulit diatur, membuatku pasrah dan membiarkan mereka berantakan. Tempat ini selalu menjadi tempat favoritku untuk menjauh dari semua orang, dan saat ini rasanya air di bawah kakiku lebih menerimaku daripada semua orang itu. Aku tidak senekat itu untuk terjun, namun itu jauh lebih mudah daripada terus bertahan.

“Kamu nggak seharusnya ada di sini! Ini bukan tempatmu.”

“Alah, cewek kayak dia mana ngerti dibilang kayak gitu. Udahlah, ngapain kamu ngurus orang nggak berguna kayak dia?”

“Dia ada atau enggak juga nggak bakal ngaruh kok.”

“Siapa sih dia? Cewek yang kemarin mecahin kaca di laboratorium itu? Emang aneh dia itu.”

“Dunia ini akan jauh lebih baik tanpa dia.”

“She is nobody!”

Lanjutkan membaca “Dunia Tanpa Dia”

Menjadi Tak Berarti

“Pergi dari hidup tenar, menatap dinding dengan nanar,

Merasakan pedihnya tawa hingga tak lagi memiliki nyawa,

Aku ada, sekaligus tiada,

Menatap senja sambil merindu manja.

Kau pergi dan tak kembali,

Meninggalkanku di sini, bertanya tanpa arti,

Menelusuri jalan-jalanku, menghirup aroma laut biru,

Menangis pilu, menyesali kesalahan selalu.

Kau milikku, dan aku milikmu.

Hai, gadisku, akulah lelakimu.

Kuserahkan obsesiku, kuletakkan ambisiku.

Akankah kau kembali, bila aku sudah tak punya arti?”