Tentang Kehilangan dan Keping Hati yang Tak Kembali

Aku baru saja menyelesaikan sebuah buku. Buku itu mengenai kehilangan. Mengenai cara masing-masing individu untuk menghadapinya, menjalani hidup yang baru tanpa kehadiran orang itu di sisi mereka.

Aku baru mengalami dua kehilangan. Kedua kakekku telah meninggalkan dunia dan telah menghuni sebuah tempat yang lebih baik. Meski aku tidak begitu dekat dengan mereka, aku pun kehilangan.

Continue reading “Tentang Kehilangan dan Keping Hati yang Tak Kembali”

What Has 2015 Given to You?

“Apa yang sudah diberikan 2015 padamu?”

Aku terdiam saat mendadak pertanyaan ini muncul di otakku. Apa ya? Tahun ini telah menjadi tahun yang menakjubkan, dan aku benar-benar menyukainya. 2015 telah memberiku banyak hal.

Ujian nasional dan teman-teman yang berjuang bersamaku. Guru-guru yang selalu mendukung kami belajar dan membantu kami menentukan jurusan yang kami inginkan. Universitas terbaik di negeri ini, fakultas favorit, dan jurusan yang menantang. A crush and how it felt to have your feeling crushed. Teman-teman baru yang menyenangkan. Petualangan seru dan kejadian lucu. Mimpi baru untuk dikejar. Dukungan dan bantuan dari semua orang di saat aku sedang tidak bersemangat. Lahirnya adik sepupu di tanggal yang sama dengan ulang tahun artis favoritmu.

Tentu saja, di saat yang bersamaan, ada waktu-waktu saat aku sedang jatuh. Saat aku merasa tidak mampu lagi mengejar mimpiku. Momen-momen galau menentukan jurusan. Kehilangan seseorang yang disayangi. Tak lupa momen-momen pendewasaan diri. Waktu Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamatku menunjukkan kekuasaannya yang besar dan mengagumkan. Kesalahan-kesalahan untuk dipelajari dan direnungkan.

2015 telah memproses seorang Shania Adriella Kurniawan menjadi dirinya yang sekarang. Proses yang menyakitkan, memang, tapi perlu. Tentu saja aku tidak bisa menilai bagaimana diriku telah berubah—hanya orang lain yang bisa. Namun tahun ini, tahun-tahun sebelumnya, dan tahun-tahun yang akan datang, tentu punya caranya sendiri untuk mengubahku sedikit demi sedikit menjadi pribadi yang lebih baik. Dan aku menantikannya.

Selamat berproses di tahun 2016!

Satu Pertanyaan

“Kamu sayang sama Yang Kung kan?”

Air mata langsung merebak, menutupi pandanganku. Aku sedang berada di Semarang untuk menengok Eyang Kakung (Yang Kung) yang sedang sakit dan dirawat di HCU. Karena satu pasien hanya boleh menerima dua pengunjung, aku dan adikku masuk duluan.

Yang Kung ada di dalam, berbaring di sebuah tempat tidur di ruangan yang senyap itu. Eyang Putri (Yang Ti) sudah menemani, bersama Tante yang notabene pegawai rumah sakit. Kami berbincang sebentar, lalu muncullah pertanyaan itu.

Aku terdiam, tidak mampu berkata-kata. Aku tahu beliau bertanya seperti itu karena beliau merasa penyakitnya sudah sangat parah dan waktunya sudah dekat. Pertanyaan itu membuatku terenyak. Sungguh, aku sama sekali tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.

Air mata segera saja memenuhi rongga mataku, membuat pandanganku memburam. Aku menengadah, berusaha mencegah air mata agar tidak segera tumpah. Aku belum bisa bereaksi.

Continue reading “Satu Pertanyaan”

Dunia Tanpa Dia

Kakiku menggantung dan berayun pelan. Angin mengacak rambutku yang sulit diatur, membuatku pasrah dan membiarkan mereka berantakan. Tempat ini selalu menjadi tempat favoritku untuk menjauh dari semua orang, dan saat ini rasanya air di bawah kakiku lebih menerimaku daripada semua orang itu. Aku tidak senekat itu untuk terjun, namun itu jauh lebih mudah daripada terus bertahan.

“Kamu nggak seharusnya ada di sini! Ini bukan tempatmu.”

“Alah, cewek kayak dia mana ngerti dibilang kayak gitu. Udahlah, ngapain kamu ngurus orang nggak berguna kayak dia?”

“Dia ada atau enggak juga nggak bakal ngaruh kok.”

“Siapa sih dia? Cewek yang kemarin mecahin kaca di laboratorium itu? Emang aneh dia itu.”

“Dunia ini akan jauh lebih baik tanpa dia.”

“She is nobody!”

Continue reading “Dunia Tanpa Dia”

Menjadi Tak Berarti

“Pergi dari hidup tenar, menatap dinding dengan nanar,

Merasakan pedihnya tawa hingga tak lagi memiliki nyawa,

Aku ada, sekaligus tiada,

Menatap senja sambil merindu manja.

Kau pergi dan tak kembali,

Meninggalkanku di sini, bertanya tanpa arti,

Menelusuri jalan-jalanku, menghirup aroma laut biru,

Menangis pilu, menyesali kesalahan selalu.

Kau milikku, dan aku milikmu.

Hai, gadisku, akulah lelakimu.

Kuserahkan obsesiku, kuletakkan ambisiku.

Akankah kau kembali, bila aku sudah tak punya arti?”

Aku dan Kamu

Akulah yang tak terlihat,

Terdiam di sudut yang terabaikan.

Akulah yang tak didengar,

Telingamu tidak mau menerima suaraku.

Akulah yang tak dianggap,

Karena kamu lebih peduli padanya.

Tapi,

Akulah yang paling tahu.

Dalam diam aku selalu mengamati.

Akulah yang paling mengerti.

Telingaku akan selalu menampung rahasiamu.

Akulah yang paling peduli.

Menemanimu saat kamu memilih untuk sendiri.

Akulah kamu,

Yang kamu abaikan saat kamu bersamanya.

Yang tak kamu dengar karena kamu hanya mendengar dia.

Yang peduli padamu saat tak ada yang memedulikan.

Yang menemani saat kamu menangis sendu pukul tiga.

Yang berusaha mengumpulkan hatimu yang terserak.

Yang menangis bersamamu ketika kamu melukis tubuhmu dengan luka.

Akulah otakmu yang punya logika.

Yang tetap waras agar kamu tidak gila.

Dengarkanlah aku, sekali ini saja.

Lupakan dia.

Dia tidak pantas untukmu.

Karena, bila dia pantas,

Dia tidak akan membiarkanmu melukis dengan silet.

Aku dan Putri Liliput

Aku sedang tersenyum padanya

Dia, yang selalu bisa kulihat hari Kamis

Dia, yang ketika kulirik sedang terdiam

Pipinya merona malu

Dia, yang dalam tenangnya terasa begitu teduh dan menyenangkan,

bagaikan pohon besar yang rimbun

yang akan memberi kedamaian pada setiap jiwa yang kesepian

Dia, yang kadang tertangkap basah menatapku

Matanya yang besar

menyesatkanku dalam tatapannya yang indah

Dia, yang kecil

Kapas putih yang halus, rapuh, dan lembut

Dia, Putri Liliput-ku

Karena dia, selalu tampak mungil dan manis

Dan saat dia, yang kutemui di sana hari Selasa ini

tercengang saat aku menelusuri wajahnya,

tersenyum,

duduk dengan gelisah

saat aku duduk di sebelahnya sampai dia pergi

yang kutahu hanyalah:

otakku memaksaku untuk segera berbicara padanya tentang apapun

telingaku ingin mendengar suara keluar dari bibirnya

dan hatiku ingin segera kenal dengan dia

Semua keinginan itu telah dia timbulkan

Cukup dengan diam di sebelahku

Aku menatapnya sambil tersenyum

Mendapatinya ikut menatapku dengan malu

Satu kalimat

Dan dia telah membuatku merasa bahagia

Apalagi, saat kudengar jawaban darinya

“Hai, Re. Aku Lilian.”