Blognya Shania

Kumpulan Cerita Shania

My story on the last week

Hai hai :D aku mau nulis lagi :)

Aku pengen cerita tentang seminggu terakhir. Kemarin hari Kamis sampai Minggu, umat Kristen dan Katolik merayakan sesuatu yang amat penting. Hari Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Minggu Paskah adalah serangkaian hari untuk merayakan Paskah. Aku mengucapkan Selamat Paskah bagi yang merayakan :)

Gerejaku, GKI Ngupasan, mengadakan kebaktian di hari-hari itu. Di hari Kamis Putih, kami mengadakan ibadah ala tradisional. Kebaktian dilengkapi dengan tarian. Bahkan, katanya dibagikan gethuk dan wedang secang. Jemaat menggunakan dc batik hari ini. Hari Jumat Agung, jemaat menggunakan dc hitam. Kebaktian berjalan seperti biasa, tentu saja bertema kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib.

Kebaktian Sabtu Sunyi tidak kalah unik. Aku ikut ibadah ini, karena aku bertugas sebagai petugas LCD. Kebaktian ini beda dari kebaktian biasa, karena pada saat kebaktian, hampir tidak ada lampu dinyalakan. Bahkan, seluruh gereja didekorasi dengan warna gelap. Kain-kain polos hitam juga digunakan untuk membuat suasana gelap. Sabtu Sunyi adalah hari di mana kami berkabung atas kematian Kristus. Ibadah ini diakhiri dengan perenungan pribadi. Kebaktian Minggu Paskah juga berlangsung seperti biasa.

Hari ini adalah Hari Kartini. Hari ini murid SMAN 8 memakai baju adat. Yup, kebaya bagi yang putri dan beskap bagi yang putra. Kami memulai hari dengan upacara. Seluruh pasukan upacara terdiri dari perempuan. Setelah itu, kami mengadakan class meeting. Ada lomba Putri Kartini, Putra dan Putri Pakçi, lomba estafet rias wajah, gulung stagen, dan tarik tambang, serta lomba kebersihan kelas. Ada juga lomba karaoke untuk guru dan lomba foto kelas. Hari ini sangat menyenangkan.

Tak lupa aku ingin mengucapkan Selamat Hari Kartini. Semoga apa yang dulu ia perjuangkan tidak hilang, melainkan terus dijunjung tinggi.

Sekian dariku :)

Tinggalkan komentar »

Say Hai + ViHoS

Hai.

Sebenarnya cuma mau ngomong itu aja. Di tulisan sebelum-sebelumnya kan ceritaku, sekarang lagi nggak punya ide, jadi cuma mau say hai.

Biar agak panjangan dikit, aku mau cerita.

Kemaren tanggal 28-30 Maret, aku mengikuti kegiatan Village Home Stay atau ViHoS di Desa Wisata Pentingsari (Dewi Peri). Tempatnya berjarak 12 km dari Merapi. Sebenarnya yang ikut kegiatan ini angkatan 015 alias kakak kelasku kelas 11, tapi karena aku adalah bagian dari kelas akselerasi SPARTA #131615 (kelas setengah seperempat :p) aku ikut juga dalam acara ini. Aku dan teman-temanku kelas CI juga kakak kelas 11 berangkat jam satu siang.

Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar »

Bersamanya (3 – end)

Kakek mengundangku dan keluargaku datang ke rumahnya. Dia ingin makan siang bersama. Entah dalam rangka apa. Papa, Mama, Kak Reika, mereka semua datang ke Bandung kemarin. Bersiap-siap untuk acara hari ini. Mereka sangat antusias menunggu acara ini. Hanya aku yang tidak bersemangat.

Pikiranku terus memaksaku memilih sejak kemarin. Memilih satu di antara dua pilihan. Hatiku mendukung pilihan pertama, sedangkan akal sehatku mendukung yang kedua. Aku tahu pilihan kedualah yang terbaik, tapi hatiku terus menyuarakan bahwa aku harus memilih yang pertama.

Aku ingin tetap di rumah menemani Nenek, tetapi Mama menyeretku ke mobil. Aku sudah tidak bisa melawan. Dengan muka jelek aku diam di mobil. Kak Reika sibuk bercerita tentang Kak Albert. Ah, hal itu membuatku semakin kesal. Hal itu mengingatkanku akan perasaanku sendiri. Andai aku bisa benar-benar yakin. Sayangnya, kini bahkan hatiku tidak lagi yakin akan pilihan pertama. Akalku juga tidak lagi bersuara seperti tadi. Kini, semua malah semakin buram. Aku tidak lagi yakin akan semuanya.

Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar »

Bersamanya (2)

Kalian tahu bagaimana rasanya saat kamu bisa bersin setelah sebelumnya kamu gagal? Lega sekali kan? Nah, kalian pasti tahu perasaanku saat ini. Pelan namun pasti aku mulai kembali menjadi diriku yang dulu. Perbandinganku agak aneh ya? Tapi rasanya mirip kok. Kalau akhirnya kita bisa bersin setelah gagal, hidung kita pasti bisa berfungsi dengan baik. Kalau kita bisa kembali menjadi diri kita yang lama? Seluruh tubuh akan berfungsi dengan baik lagi. Aku jadi nyaman berada di kampus. Temanku juga mulai bertambah banyak.

Rian. Aku harus mencari dia. Dia berhasil membuatku kembali jadi seperti dulu. Aku harus berterima kasih padanya. Namun, rasanya seluruh dunia berkomplot untuk menjauhkanku dari dia. Ketika aku sampai di kampus—kali ini 30 menit sebelum kuliah dimulai—Fred menyeretku ke kelompok belajarnya dan memintaku mengajari mereka. Fred, Nugie, Dika, dan Tim bertanya terus, sehingga waktu 30 menit itu habis.

Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar »

Bersamanya (1)

Tersentak, aku terbangun. Pukul satu dini hari. Kepalaku berdenyut-denyut. Aku tahu benar aku baru tidur satu jam. Kupejamkan mata, berusaha untuk tidur. Tidak ada hasil. Mimpi itu terus terulang. Waktu satu jam ternyata cukup untuk memainkan mimpi buruk itu. Sebenarnya, mimpi ini pasti merupakan mimpi indah bagi orang lain. Seorang cowok tampan muncul di mimpi itu dan berbincang padaku sampai mimpi itu berakhir. Sesederhana itu. Menyenangkan bukan, berbicara dengan cowok paling tampan yang pernah kau temui?

Aku benci mimpi itu.

Berkali-kali kuubah posisi tidurku. Gagal. Aku tetap tidak bisa tidur. Mimpi itu masih berdiam di kepalaku. Aku gagal mengusir bayang-bayang cowok itu. Kalian pasti bertanya-tanya, kenapa aku benci mimpi itu kalau cowok itu cowok paling tampan yang pernah kutemui. Kuberi tahu satu hal.

Mimpi ini merupakan mimpi buruk bagiku, karena cowok tampan itu adalah dia.

Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar »

Surat (Terakhir) Untukmu (5-5)

17 Maret

Ada yang tidak beres tentang diriku. Kemarin lusa, waktu sedang konser, aku pingsan. Kepalaku seperti dipukuli dari dalam. Begitu bangun, aku ada di rumah sakit. Manajerku sedang berbicara dengan dokter. Sayup-sayup aku bisa mendengar mereka berbicara tentang gegar otak.

Apakah aku terkena gegar otak? Bagaimana bisa? Karena kecelakaan itu?

Tiga pertanyaan itu meluncur dari mulutku tanpa bisa kucegah. Dokter dan manajerku terkejut mendapatiku tersadar. Mereka—terutama si dokter—mulai menjelaskan apa yang terjadi.

Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar »

Surat (Keempat) Untukmu (4-5)

28 Februari

Aku tidak tahu cara menyampaikan yang baik padamu. Akan kucoba.

Jadi, hari ini aku mengantar Ayah ke kantornya. Stasiun radio itu. Aku menurunkannya di depan gedung dan langsung pergi lagi. Sebelum aku sampai gerbang, aku melihatnya. Aku segera menghentikan mobilku, memarkirnya di tempat terdekat, dan menghampirinya. Dia sedang duduk di bangku taman yang ada di stasiun ini.

Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar »

Surat (Ketiga) Untukmu (3-5)

14 Februari

Hari yang paling ditunggu semua orang. Valentine. Valentine hari ini adalah Valentine yang paling kusukai. Kenapa? Karena aku bertemu dengannya, lagi.

Kalau aku bercerita langsung, kamu pasti akan langsung heboh. Aku langsung geli mengingat hal itu. Dan kalau aku menertawakan kehebohanmu, kamu pasti akan langsung marah. Oke, akan kuceritakan.

Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar »

Surat (Kedua) Untukmu (2-5)

26 Januari

Tahukah kamu? Aku yakin kamu tidak tahu.

Dia adalah seorang penyiar.

Aku baru tahu pagi ini. Aku sedang mencari siaran radio yang bagus di mobil. Perjalanan ke tempatku bekerja kali ini memang membosankan. Mendadak suaranya yang lembut terdengar. Aku langsung merasa bersemangat. Dia membacakan berbagai pesan yang dikirim ke acara itu. Lagu pertama yang dia mainkan adalah lagu gubahanku. Dia sempat mengatakan kalau ini lagu kesukaannya.

Kamu tahu bagaimana rasanya? Semua rasa gelisahku langsung hilang. Mirip rasanya ketika kamu bilang permainanku adalah permainan terbaik. Semua rasa khawatirku juga langsung pergi. Aku jadi bisa menghadapi massa dengan baik. Maklum, waktu itu aku memang baru akan konser pertama kali sebagai gitaris. Band-ku yang tercerai berai membuatku harus tampil sendiri bila ingin terkenal. Atas dukunganmu, aku berani melakukannya. Dan, aku dalam perjalanan menuju ke tempat konserku yang kelima. Konser kedua tanpa dukunganmu.

Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar »

Surat (Pertama) Untukmu (1-5)

18 Januari

Aku ingin bercerita padamu. Tentang seorang gadis yang baru saja kulihat.

Aku bertemu dengannya hari ini. Tepatnya di kafe dekat apartemen lamamu. Ketika aku masuk dan duduk di sebuah meja, aku melihatnya. Persis di hadapanku. Duduk menghadap diriku. Rambut lurusnya dipotong pendek, yang terlihat sangat cocok dengan wajah lonjongnya. Matanya besar, hidungnya kecil, dan mulutnya tipis. Benar-benar cantik.

Baca entri selengkapnya »

Tinggalkan komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.