Satu Pertanyaan

“Kamu sayang sama Yang Kung kan?”

Air mata langsung merebak, menutupi pandanganku. Aku sedang berada di Semarang untuk menengok Eyang Kakung (Yang Kung) yang sedang sakit dan dirawat di HCU. Karena satu pasien hanya boleh menerima dua pengunjung, aku dan adikku masuk duluan.

Yang Kung ada di dalam, berbaring di sebuah tempat tidur di ruangan yang senyap itu. Eyang Putri (Yang Ti) sudah menemani, bersama Tante yang notabene pegawai rumah sakit. Kami berbincang sebentar, lalu muncullah pertanyaan itu.

Aku terdiam, tidak mampu berkata-kata. Aku tahu beliau bertanya seperti itu karena beliau merasa penyakitnya sudah sangat parah dan waktunya sudah dekat. Pertanyaan itu membuatku terenyak. Sungguh, aku sama sekali tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu.

Air mata segera saja memenuhi rongga mataku, membuat pandanganku memburam. Aku menengadah, berusaha mencegah air mata agar tidak segera tumpah. Aku belum bisa bereaksi.

Lanjutkan membaca Satu Pertanyaan

Dunia Tanpa Dia

Kakiku menggantung dan berayun pelan. Angin mengacak rambutku yang sulit diatur, membuatku pasrah dan membiarkan mereka berantakan. Tempat ini selalu menjadi tempat favoritku untuk menjauh dari semua orang, dan saat ini rasanya air di bawah kakiku lebih menerimaku daripada semua orang itu. Aku tidak senekat itu untuk terjun, namun itu jauh lebih mudah daripada terus bertahan.

“Kamu nggak seharusnya ada di sini! Ini bukan tempatmu.”

“Alah, cewek kayak dia mana ngerti dibilang kayak gitu. Udahlah, ngapain kamu ngurus orang nggak berguna kayak dia?”

“Dia ada atau enggak juga nggak bakal ngaruh kok.”

“Siapa sih dia? Cewek yang kemarin mecahin kaca di laboratorium itu? Emang aneh dia itu.”

“Dunia ini akan jauh lebih baik tanpa dia.”

“She is nobody!”

Lanjutkan membaca Dunia Tanpa Dia

Menjadi Tak Berarti

“Pergi dari hidup tenar, menatap dinding dengan nanar,

Merasakan pedihnya tawa hingga tak lagi memiliki nyawa,

Aku ada, sekaligus tiada,

Menatap senja sambil merindu manja.

Kau pergi dan tak kembali,

Meninggalkanku di sini, bertanya tanpa arti,

Menelusuri jalan-jalanku, menghirup aroma laut biru,

Menangis pilu, menyesali kesalahan selalu.

Kau milikku, dan aku milikmu.

Hai, gadisku, akulah lelakimu.

Kuserahkan obsesiku, kuletakkan ambisiku.

Akankah kau kembali, bila aku sudah tak punya arti?”

Aku dan Kamu

Akulah yang tak terlihat,

Terdiam di sudut yang terabaikan.

Akulah yang tak didengar,

Telingamu tidak mau menerima suaraku.

Akulah yang tak dianggap,

Karena kamu lebih peduli padanya.

Tapi,

Akulah yang paling tahu.

Dalam diam aku selalu mengamati.

Akulah yang paling mengerti.

Telingaku akan selalu menampung rahasiamu.

Akulah yang paling peduli.

Menemanimu saat kamu memilih untuk sendiri.

Akulah kamu,

Yang kamu abaikan saat kamu bersamanya.

Yang tak kamu dengar karena kamu hanya mendengar dia.

Yang peduli padamu saat tak ada yang memedulikan.

Yang menemani saat kamu menangis sendu pukul tiga.

Yang berusaha mengumpulkan hatimu yang terserak.

Yang menangis bersamamu ketika kamu melukis tubuhmu dengan luka.

Akulah otakmu yang punya logika.

Yang tetap waras agar kamu tidak gila.

Dengarkanlah aku, sekali ini saja.

Lupakan dia.

Dia tidak pantas untukmu.

Karena, bila dia pantas,

Dia tidak akan membiarkanmu melukis dengan silet.

Aku dan Putri Liliput

Aku sedang tersenyum padanya

Dia, yang selalu bisa kulihat hari Kamis

Dia, yang ketika kulirik sedang terdiam

Pipinya merona malu

Dia, yang dalam tenangnya terasa begitu teduh dan menyenangkan,

bagaikan pohon besar yang rimbun

yang akan memberi kedamaian pada setiap jiwa yang kesepian

Dia, yang kadang tertangkap basah menatapku

Matanya yang besar

menyesatkanku dalam tatapannya yang indah

Dia, yang kecil

Kapas putih yang halus, rapuh, dan lembut

Dia, Putri Liliput-ku

Karena dia, selalu tampak mungil dan manis

Dan saat dia, yang kutemui di sana hari Selasa ini

tercengang saat aku menelusuri wajahnya,

tersenyum,

duduk dengan gelisah

saat aku duduk di sebelahnya sampai dia pergi

yang kutahu hanyalah:

otakku memaksaku untuk segera berbicara padanya tentang apapun

telingaku ingin mendengar suara keluar dari bibirnya

dan hatiku ingin segera kenal dengan dia

Semua keinginan itu telah dia timbulkan

Cukup dengan diam di sebelahku

Aku menatapnya sambil tersenyum

Mendapatinya ikut menatapku dengan malu

Satu kalimat

Dan dia telah membuatku merasa bahagia

Apalagi, saat kudengar jawaban darinya

“Hai, Re. Aku Lilian.”

Aku dan Pangeran Respati

Aku hanya bisa menatapnya

Dia, yang hanya bisa kulihat hari Kamis

Dia, yang selalu kulihat sedang diam,

merenung dan berpikir

Dia, yang dalam diamnya terlihat begitu kokoh dan tegar,

layaknya batu karang yang kuat

yang akan menantang setiap ombak yang berdebur ke arahnya

Dia, yang kadang memergokiku sedang menatapnya

Senyumnya yang memukauku

memikat hatiku dengan pesona itu

Dia, yang misterius

Semesta penuh rahasia yang menunggu untuk dikuak

Dia, Pangeran Respati-ku

Karena dia, hanya bisa kulihat hari Kamis

Dan saat dia, yang hadir di sana hari Selasa ini,

tersenyum padaku yang sedang memperhatikannya,

menghampiriku,

duduk di sebelahku,

dan diam di sana sampai dia nanti turun,

yang kutahu hanyalah:

jantung ini memompa lebih banyak darah dari biasanya

karena otakku butuh energi untuk tetap berpikir

karena paru-paruku butuh energi untuk tetap bernapas

Semua energi itu telah dia ambil

Cukup dengan duduk di sebelahku

Dengan ragu, aku menoleh

Mendapatinya turut menoleh ke arahku

Satu tatapan

Dan dia telah membuatku merasa malu

Apalagi, saat kudengar suara itu.

“Hai. Aku Re. Kamu?”

Dia

Luka. Itu yang kulihat di wajahmu. Itu yang terpancar dari matamu. Itu yang kamu rasakan saat ini dan setiap saat kamu melihat dia. Luka.

Kamu dan dia sudah bersama sejak aku belum mengenalmu. Saat melihat kalian pertama kalipun, aku tahu. Caramu menatapnya, caramu menggenggam tangannya, caramu mengucap namanya. Jelas-jelas aku melihat cinta di antara kalian. Cinta abadi yang membuatku yakin kalian akan terus setia sampai maut memisahkan—tidak, sampai kalian bertemu lagi di sana nanti.

Ada banyak hal yang bisa kutangkap dari caramu melihat dia. Memanggil namanya. Sayang, jelas. Cinta, sudah pasti. Harapan untuk dia. Penerimaan akan seluruh kelebihan dan kekurangan dia. Keinginan untuk melindungi dan menjaga dia. Kekuatan untuk diberikan pada dia.

Lanjutkan membaca Dia